Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia Batu (YPPII Batu) sebagai Badan Penyelenggaran Perguruan Tinggi Swasta melandasi pelayanan Pendidikan Theologia-nya dengan bagian firman Tuhan dari Yohanes 12:24. Berikut uraian dari Yohanes 12:24 tersebut :

Pernahkah kita memperhatikan pertumbuhan tanaman? Bagaimana caranya agar tanaman bisa ada? Semuanya diawali dari sebuah benih dan agar benih itu bertumbuh, dia tidak sekonyong- konyong ada, melainkan benih itu harus jatuh ke tanah. Tidak hanya sekedar jatuh namun dia  juga harus “masuk” ke dalam tanah. Setelah dia berada di dalam tanah, dia harus menunggu waktu untuk menunggu pertumbuhan akar lalu setelah itu barulah dia bisa menembus keluar tanah menjadi tunas. Demikian juga dengan kehidupan kita, dalam Yohanes 12:24 dikatakan “Aku berkata kepadamu:  Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak.”

Dari  kutipan  teks  ini,  menarik  kita  merenungkan tentang iman  dan    hidup  kita  belajar  dari  dari  biji  gandum.  Gandum (Ibrani: ‘dagan’, Yunani: ‘sitos’), yaitu jenis rumput yang menghasilkan  biji-bijian,  dikenal  sejak  masa  purba,  dan  yang sangat penting sebagai makanan manusia. Yang lazim pada jaman Perjanjian Lama (PL) ialah Triticum diccocum,  sesudah itu pada jaman Helenistis, termasuk jaman Perjanjian Baru (PB) Triticum durum. Karena mutu fisik dan kimiawinya, gandum membuat roti lebih lezat dan lebih baik ketimbang biji-bijian yang lain manapun. Di jaman sekarang gandum banyak dikonsumsi oleh orang-orang yang ingin memperoleh jenis makanan yang berserat (makanan sehat untuk pencernaan). Gandum merupakan bagian penting dari jenis makanan anak-anak Israel (Hakim-hakim 6:11; Rut 2:23; 2 Samuel 4:6). Masa panen gandum digunakan sebagai acuan kalender (Kejadian 30:14; 1 Samuel 12:17). Karena pentingnya sebagai makanan maka gandum dijadikan lambang kebajikan dan pemeliharaan Allah (Mazmur 81:17; 147:14). Gandum digunakan sebagai persembahan biji-bijian di Bait Allah (Ezra 6:9; 7:22) dan merupakan bagian dari korban yang diadakan oleh Daud di tempat pengirikan Ornan (1 Tawarikh 21:23). Sifat botanisnya, yakni satu biji gandum memberikan beberapa bulir gandum baru, sementara biji  benih  aslinya  dikorbankan,  dan  ini  dijadikan  oleh  Kristus untuk menunjukkan bahwa keberhasilan rohani bersumber pada kematian si-Aku  (Yohanes 12:24;  I  Korintus  15:36)  Dalam  arti simbolis mengenai anak-anak Allah, gandum dipertentangkan dengan sekam yang tak berharga (Matius 3:12). Sama halnya di dalam Matius 13:24-30 ladang Lolium temulentum (ilalang), pada awal  pertumbuhannya  nampak  mirip  rumput-rumputan seperti gandum,  tetapi  dengan  mudah  dapat  dibedakan  pada  waktu panen.

Dari perenungan tentang asal-usul dan makna biji gandum kita dapat merenungkan beberapa hal. Pertama, harus ada kematian. Kita semua merindukan kebangkitan dalam hidup kita, tetapi agar itu bisa terjadi ingatlah bahwa kehidupan kita tidak ubahnya seperti biji gandum dalam Yohanes 12:24. Jika kita tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, maka kita akan sama saja, tidak akan mengalami kehidupan yang produktif. Tidak ada keberhasilan tanpa  perjuangan.  Berakit-rakit  dahulu  berenang-renang kemudian; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitupula  iman  kristiani mengajarkan: kebangkitan senantiasa didahului   dengan   kematian,   tidak   ada   kebangkitan   tanpa kematian. Untuk mengalami kebangkitan, Tuhan seringkali mengijinkan kita mengalami seperti terjatuh ke dalam tanah. Itu berarti  kita  mengalami keadaan  yang  tidak  mengenakan sebab tidak ada jatuh yang enak, kita juga mengalami keadaan yang tidak berdaya sebab pastilah di dalam tanah rasanya kita tidak memiliki kekuatan lagi, kita juga mengalami keadaan yang serba gelap artinya seperti mengalami kebingungan. Kalau hari-hari ini kita mengalami  keadaan  yang  seperti  terjatuh  ke  dalam  tanah  itu berarti kita sedang berada dalam proses-Nya Tuhan untuk mengalami kebangkitan dalam hidup ini. 

Kedua, tentang kematian daging. Hal apa yang harus mati dalam hidup kita agar mengalami kebangkitan? Rasul Paulus memberikan beberapa nasehat. Roma 8:13 “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Daging akan membawa kita pada kematian. Roma 8:7 “Sebab keinginan  daging  adalah  perseteruan  terhadap  Allah,  karena  ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”  Daging  ialah  segala  hal  yang  membuat  kita  tidak “connect” dengan Tuhan, segala hal yang membuat kita tidak taat pada hukum Allah. Contohnya, keinginan untuk tidak berdoa itu adalah keinginan daging sebab tidak berdoa berarti kita memutuskan hubungan dengan Tuhan, keinginan untuk berzinah itu adalah keinginan yang tidak sesuai dengan hukum Allah, dsb. Agar  kita  mengalami kebangkitan maka  daging  itu  harus  mati terlebih dahulu. Caranya ialah seringkali Tuhan mengijinkan tekanan, proses terjadi dalam kehidupan kita. Seperti halnya benih yang terjatuh ke dalam tanah, dia mengalami seperti dalam tekanan, seperti dalam kegelapan, seperti tidak dapat berbuat apa- apa,  demikian  juga  kita.  Jika  saat  ini  kita  seperti  sedang mengalami tekanan yang sampai membuat kita merasa tidak dapat berbuat apa-apa, itu artinya kita sedang berada dalam proses mematikan segala daging. 

Ketiga, sikap mengandalkan Tuhan. Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Namun di tengah segala tekanan yang sedang terjadi, ingatlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Nya yang gagal. Kehidupan yang bangkit dan menjadi terang bukanlah dihasilkan dari kekuatan dan usaha kita sendiri, akan tetapi semuanya itu adalah kekuatan dan usaha daripada Tuhan. Untuk bisa menjadi berkat bagi dunia ini kita harus hidup dengan kekuatan daripada Tuhan, sebab tantangan dan ujian yang akan kita hadapi bukanlah tantangan yang mudah. Namun bersama Tuhan tidak ada yang sulit, Dia sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada  rencana-Nya yang gagal. Sebaliknya jika kita tetap hidup dengan kekuatan daging, kekuatan kita sendiri dan tidak menggunakan kekuatan Tuhan, kita akan seperti biji gandum yang tidak jatuh ke tanah dan mati, yaitu tetap satu dan tidak bermultiplikasi. Tetapi bangkit dan menjadi terang berarti kita menggunakan kekuatan Tuhan. Hari ini mari kita ambil keputusan untuk mengijinkan Tuhan terus memproses hidup kita agar kita bisa seperti biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati sehingga kita bangkit dan menjadi terang, tidak hanya bagi kota dan bangsa ini saja namun juga bagi dunia ini. Sekali lagi jangan menyerah namun tetaplah semangat dan Tuhan memberkati.

Konteks  dari  teks  tentang  biji  gandum  harus  diletakkan dalam misi dan karya Yesus Kristus. "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.", kata beberapa orang Yunani kepada murid Yesus. Beberapa orang Yunani ini rupanya memiliki jiwa yang haus akan kebenaran dan mereka ingin bertemu Yesus! Betapa keinginan ini acapkali  terabaikan  oleh  kita  orang  beriman  akhir-akhir  ini. Kadang dalam misa/ibadah orang melihat siapa pemimpin/pengkotbah dan siapa “pengisi acara”, kelompok koor, lector, dsb,   ketimbang mendengar dan bertemu dengan Yesus. Begitu juga pelayan-Nya. Kadang lupa bahwa jemaat memilki kerinduan seperti orang Yunani ini, yang harus ditanggapi dengan seksama. Yesus menanggapi: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.  Aku  berkata  kepadamu:  Sesungguhnya jikalau  biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk  hidup  yang  kekal.  Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku  akan  berada.  Barangsiapa  melayani  Aku,  ia  akan dihormati Bapa (Yoh 12:24-26). Yesus menanggapi keingintahuan beberapa orang Yunani itu dengan mengungkapkan “siapa Dia”, “apa yang akan dilakukan-Nya”, dan “apa yang diharapkan-Nya” dari semua orang, dan ini bukan hanya untuk bangsa-Nya sendiri saja  tetapi  juga  bagi  banyak  bangsa,  khususnya  gereja-Nya  di mana Ia adalah Kepala.

Dalam tanggapan-Nya itu Yesus telah memilih dan juga mengajarkan mereka untuk mematikan ambisi dan keinginan pribadi sehingga mereka dapat berbuah bagi Allah. Hanya pada saat orang “siap” untuk mati, maka segala sesuatu yang baik hadir. Inilah hati sebagai hamba! Inilah kemuliaan yang dihadirkan oleh Anak Manusia melaui salib-Nya. Tidak hanya itu, bagi Yesus hidup yang benar-benar hidup ialah “hidup” yang siap kehilangan apa yang  “nyaman” dalam  “hidup” agar orang lain beroleh “hidup”. Yesus memperhatikan “isi” hidup dan bukan asal “napas”. “Isi” hidup Yesus ialah pengorbanan untuk sebuah perubahan yang berujung kepada kekekalan. Berikutnya, Yesus menyatakan bahwa dengan melayanilah orang akan mendapatkan kemuliaan (Ibr 5:5-10). Orang bisa saja mencari dan mendapat kemuliaan dengan kekuasaan, harta dan kekerasan. Tetapi yang didapatkan adalah kemuliaan yang hambar tanpa cinta kasih. Kemuliaan semu. Kemuliaan yang didapat karena melayani, adalah kemuliaan yang sejati, karena muncul dari kasih dan ketulusan. Tidak mudah bagi Yesus untuk memilih dan menjalani ketiga hal itu. Yesus menggumulinya dengan sungguh sebagai Anak Manusia, hingga pada akhirnya Ia memutuskan untuk taat melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya. Apa yang membuat Yesus yakin dan teguh? Suara dari sorga meneguhkan-Nya!

Kini, Kekuatan yang Allah berikan buat Yesus, juga Allah berikan untuk setiap orang. Saat Allah mengutus kita, Ia tidak mengutus kita tanpa peta dan tuntunan (Yer 31:31-34). Saat Ia memberi tugas kepada kita Ia tidak membiarkan kita menjalani- Nya dalam kelemahan kekuatan diri kita sendiri. Kadang justru kita menjadi lemah pada saat kita enggan untuk mendengar suara- Nya yang menyapa kita (Mzm 119:9-16).Tuhan akan memelihara kita sebagai umatnya di tengah- tengah masa sulit ini, bahkan lebih dari sekedar memelihara. Allah akan memberikan kepada kita gandum yang terbaik artinya, kita tidak akan kekurangan bahan makanan untuk keluarga kita. “Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (Mazmur 81:17) dan ditambahkan dalam Mazmur 147:14, “Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau  dengan  gandum  yang  terbaik.”  Yesus  bersabda,  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah, (Yohanes 12:24). Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu, (I Korintus 15:36). Kematian Kristus di kayu salib bagaikan biji gandum yang ditanam dalam tanah dan kemudian tumbuh bulir-bulir gandum. Klimaks dari keberhasilan rohani orang percaya ialah ketika mereka sudah tidak takut  lagi  kehilangan  nyawa  bagi  Kerajaan  Allah  dan  untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi !